Penyebutan A-ni-me di mata orang tua

Ah..untuk jurnal yang satu ini jangan terlalu diperhatikan,cuman sebagian dari celotehan suara hati Remi yang Remi pikir mungkin bisa dijadikan bahan :D *karena masih ada hubungan* Tidak sepanjang review sih, pendek kok :D

Pertama,Remi langsung ke pokok permasalahan yakni :
Bagaimana orang tua kalian (yah pokoknya yang tidak tahu anime) menyebutkan ‘anime’. Pastinya commonly kata yang digunakan adalah Kartun Jepang kan ? .Apa tanggapan kalian tentang ini ? bagi para Otaku terutamanya pasti (Remi yakin) tidak terima akan penyebutan ‘kartun’kan? karena kita tahu kalau Anime dan kartun adalah hal yang sangat beda.

Lebih jelasnya ialah, Anime itu adalah hasil animasi jepang,sedangkan Kartun , seperti yang kita tahu, beraliran barat. Dimana kalau kartun warna karakter kebanyakan satuan (dalam arti tidak ada shadingan) dan bentuk karakter kebanyakan bukan manusia ,lebih difokuskan kepada binatang .

Sangat disayangkan bukan? kalau dimata orang tua anime dan kartun barat memilik arti yang sama,padahal jelas-jelas perbedaannya sangat jauh ,dan Remi rasa ini merupakan sisi yang buruk. Dimana karena menurut mereka sama,maka mereka akan melarang,berpikir negatif saat anak mereka (yang sudah dewasa) menonton,Padahal anime banyak sisi baiknya :D (tergantung anime apa dulu~jangan hentai XD). Nah kalau menurut kalian sendiri gimana? :D

8 Comments »

  1. Kucing Said:

    Aku setuju. Tapi kurasa ini nggak terjadi cuma buat orang tua. Orang yang ‘awam’ soal animanga juga pasti bakal menganggap kalo anime = kartun.

    Yang lebih menyebalkan, pada saat kita lagi asik-asik nonton anime, orang tua suka negur, “Ih, sudah besar masih nonton kartun…” Tanpa tahu apa isi anime yang sedang kita lihat.

    Pada saat anime menayangkan content untuk remaja/dewasa, maka orang tua akan berkomentar, “Apa sih ini, film kartun ada yang giniannya?” Seolah-oleh anime tidak boleh ada unsur kekerasan/seks.

    Orang yang awam akan animanga juga, biasanya lebih tertarik menonton hal yang “real” daripada “sesuatu yang ngga nyata” (e.g. drama/sinetron). Namun kalau kita pikir lagi, baik drama/sinetron maupun anime/kartun, adalah sama-sama fiksi. Nggak real. Bohongan. Ngga ada yang namanya “Saya nggak nonton kartun karena itu ngga real, bohong-bohongan saja”, menurut saya.

    Thanks atas idenya, Remi-chan. Cheers.

  2. Mondrosen Said:

    Er, boleh sedikit ralat? Banyak definisi Shi yg salah dan biasanya dari kesalahan definisi, akan terjadi kesalahan esensi.

    Anime: bahasa/sebutan Jepang utk animasi Jepang.
    Kartun: bentuk seni yg biasanya bersifat humor.

    Nah jadi pendefinisian Shi salah. Sangat tidak tepat kalau Shi sebut kartun berarti memiliki aliran barat,pewarnaan simpel, dah kebanyakan tokoh karakter hewan (itu sih anthro namanya).

    Malahan yg namanya manga itu ada karena berimabas komik barat yg lalu lahir deh anime.

    Banyak animasi barat yg penggambarannya sekelas bahkan di atas anime.

    Banyak animasi barat yg temanya jauh lebih dewasa dari kebanyakan anime.

    Intinya sama saja, baik animasi barat maupun jepang,asalkan animasi, orang tua akan mencapnya sebagai “kartun,” makanan anak2.

    Jadi kesalahan esensi dlm tulisan shi adalah “Orang tua menganggap anime=kartun=gambarnya cell,” itu terlalu fisik yang benar “Orang tua menganggap anime=kartun (ga peduli dari mana asalnya)=mainan anak kecil”

    PS: Org2 tua di sekitar mami aja tau kok bedanya gambaran fisik animasi jepang sama anime.

  3. remichan Said:

    makasih uda kasih tau letak kesalahan Shi,mami ^^
    Shi gk biasa tulis artikel sih jadi ya gitu deh =p

    ah enaknya kalau bisa membedakan…

    sekalian jawaban buat Sou deh *iya ya mestinya awam*…namun Remi lebih fokus ke orang tua …kalau orang awam kan masih bisa dijelaskan. Nah kalau orang tua itu susah (menurut Remi lho..soalnya ini menurut sekeliling Remi)

  4. rozenesia Said:

    Hmnn… :?

    *bingung*

    Ya sudahlah… Yang jadi masalah memang orang tua kebanyakan awam soal anime, kartun, manga, dll. Kenapa? Karena dari zaman jebot udah ditanamkan sikap bahwa kartun adalah tontonan anak-anak. :lol:
    Belum lagi sikap pukul rata itu. ;)

    Intinya ya, sabar aja. :lol:
    (solusi ga guna)

    Eh, salam kenal!

  5. Mondrosen Said:

    2rozenesia: betul ituuu, jaman dulu kan gak ada kartun sekelas sekarang yg ditonton ortu kita.

  6. saRe' Said:

    hmm, kalo orang tua sara sih cuek2 aja,
    tapi kalo nenek yang liat, pasti ngomong gini,

    “Apa ini?? Mulut mangap-mangap, rok berkibar-kibar, robot-robotan.”

    :lol:
    *cuma bisa ketawa*

  7. [...] pm } · { Colored Candies, rants } { } Beberapa lalu, putri Mond yang manis menulis tentang Penyebutan anime di mata orang tua. Rasanya tak perlu dijelaskan lagi definisi anime itu sendiri, juga bukan rahasia kalau kebanyakan [...]

  8. Dekisugi Said:

    halah…ini sih kendala bahasa aja. coba, apa bahasa indonesianya untuk anime? trus apa bahasa indonesianya cartoon?

    :D


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Comment